Senin, 07 Juni 2010
9 Hutan aneh ditemukan di Spanyol Utara
Hutan yang berbentuk indah ini dapat ditemukan di Cantabria, Spanyol Utara.
Sebuah pulau berbentuk hati, tertutup pohon yang indah dapat ditemukan di Patagonia, Argentina, dan paling indah apabila dilihat dari sisi Timur Danau Gutierrez.
Alam Guandu Park adalah sebuah taman alam yang terletak di Taipei City. Dalam taman Anda akan menemukan sawah berbentuk hati seperti gambar di atas.
Tavarua Island adalah sebuah pulau surga yang menakjubkan berbentuk hati dan pantai Viti Levu, serta dikelilingi oleh terumbu karang.
Pulau yang mempunyai bentuk indah ini dapat ditemukan di selatan Zadar di Kroasia. Pulau ini disebut Galesnjak.

Danau berbentuk hati yang paling sempurna hanya bisa ditemukan di dekat Columbia Hills Corners di Ohio

Mungkin inilah salah satu potongan berbentuk hati yang paling terkenal di mangrove, New Caledonia, di buat terkenal oleh fotografer udara Yann Arthus Bertrand dan ditampilkan pada sampul depan bukunya, dengan judul “Earth From Above”

Inilah salah satu daya tarik wisata di India, danau di dekat bagian atas Chembra Peak di India dikatakan tidak pernah kering. Rupanya lebih dari 150 orang melewati danau setiap hari selama perjalanan 3km ke atas.

Heart Reef ini terbentuk secara alami dan merupakan koleksi karang berbentuk hati di Australia.
Thanks for Kaskus.com
Selasa, 01 Juni 2010
Reynaldi nge -BAND- untuk pertama kalinya
Hari ini dimana hari ketiga dari pendaftaran murid RSBI tahun 2010 / 2011.
Sebelumnya, pada tangal 22 juni 2010, Aldi selaku kapten / gitaris sekaligus vokalis pada bandnya mengaku bahwa ia hanya mempersiapkan penampilan pertama dalam aksi panggunya hanya dalam waktu tidak lebih dari 4 jam. Dan ia juga bilang dia hanya pernah latihan sebanyak 6 kali dari pertama band ini dibuat.
Band baru ini, sangatlah sederhana. Hanya 3 personil yaitu Agung by Drummer, Jimmy by Bassis dan Aldi Gitaris sekaligus vokalisnya, seperti band barat MUSE, tau kan ? kalo nggak tau berarti anda KUPER BERAT 100&.
kembali lagi pada tanggal 23 Juni 2010.
Tak kalah hebatnya lagi, selain baru pertama kalinya memanggung. Ia juga tampil pertama sebagai pembuka acara pagi ini, acara dimulai pada pukul 07.30 di depan kelas 7G dan 7H.
-------------------------------||Untuk Vido bisa diminta ke 7c||--------------------------------
Setelah penampilanya yang pertama, memang karena mereka hanya 6 kali pertemuan dan juga lagunya yang ber-genre alternative rock, serta para juri yang tidak terlalu mengenal lagu barat. Band ini tidak menang !
Tetapi, penampilan pertama ini cukup mengesankan untuk 7C.
Kamis, 27 Mei 2010
Hachikō
setiap hari, setiap majikanya berangkat kerja,
dia selalu nganter. setiap majikannya pulang kerja, dia selalu jemput.
sampai pada suatu hari,
dia nganter majikannya kerja, dan majikannya gak pulang-pulang"
| Hachikō | |
|---|---|
Hachikō di usia senja | |
| Spesies | Anjing |
| Ras | Akita Inu |
| Jenis kelamin | Jantan |
| Lahir | 10 November 1923 Dekat kota Ōdate, Prefektur Akita |
| Mati | 8 Maret 1935 (umur 12 tahun) Shibuya, Tokyo |
| Makam | Museum Sains Nasional Jepang di Ueno, Tokyo. |
| Pemilik | Hidesaburō Ueno |
| Warna | Putih |
Hachikō (ハチ公 ?) (10 November 1923-8 Maret 1935) adalah seekor anjing jantan jenis Akita Inu kelahiran Ōdate, Prefektur Akita. Ia terus dikenang sebagai lambang kesetiaan anjing terhadap majikan. Setelah majikannya meninggal, Hachikō terus menunggu majikannya yang tidak kunjung pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.
Julukan baginya adalah Hachikō Anjing yang Setia (忠犬ハチ公 ,Chūken Hachikō?). Patung Hachikō di depan Stasiun Shibuya telah menjadi salah satu marka tanah di Shibuya. Sewaktu membuat janji untuk bertemu di Shibuya, orang sering berjanji untuk bertemu di depan patung Hachikō.
Kisah hidup
Lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Ōshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saitō dari kota Ōdate, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Ōdate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.
Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.
Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.
Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.
Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.
Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.
Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran kō (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.
Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.
Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.
Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.
Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).
Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō.
Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.
Film Hachikō Monogatari karya sutradara Seijirō Kōyama mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Pada bulan berikutnya diresmikan patung Hachikō di kota kelahirannya, Ōdate. Monumen peringatan ulang tahun Hachikō ke-80 didirikan 12 Oktober 2003 di lokasi rumah kelahiran Hachikō di Ōdate. Sebuah drama spesial tentang Hachikō ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun 2006. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita). Pada tahun 2009 film Hachiko: A Dog's Story[1] karya sutradara Lasse Hallström mulai diputar dan dibintangi oleh Richard Gere dan Joan Allen.
Ferdinand De Lesseps NUKAN ORANG YANG PERTAMA KALI MEMBANGUN TERUSAN SUEZ

Ferdinand de Lesseps (1805-1894) ternyata bukan orang yang pertama membangun Terusan Suez. Jadi sebenarnya insinyur Perancis yang tinggal lama di Mesir itu tidak berhak menyandang julukan sebagai Si Pembangun Terusan Suez.
Sejarah yang sebenarnya adalah bermula saat Firaun masih berkuasa di Mesir ribuan tahun sebelum Masehi. Ketika itu Mesir diketahui telah mengimpor sejumlah komoditi dari selatan, di antaranya kapur Barus dari kota Barus di pesisir timur Sumatera. Kapur Barus merupakan salah satu bahan utama untuk pembalseman raja dan bangsawan Mesir kala itu. Robert Dick-Read, dalam The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times (2005), menulis jika selain kapur Barus, Mesir juga mengimpor dupa, kayu eboni, gading, kemenyan, electrum (campuran alami emas dan perak), dan sebagainya dari daerah Timur India, terutama Nusantara.
Sebelum Firaun Cheops berkuasa, para Firaun Mesir mengimpor bahan-bahan itu dari “daerah di balik matahari terbit”, yang dibawa menyusuri Laut Merah dan menyeberangi gurun yang panas dan terik—dengan dipanggul manusia atau onta—menuju pusat pemerintahan atau daerah gudang. Perjalanan di gurun inilah yang sering memakan korban, baik tenaga kasar maupun biaya yang harus ditanggung kerajaan. Hal ini tentu memusingkan para pembesar Mesir. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat sodetan panjang yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah dan membangun armada laut yang kuat.
Bangsa Mesir memang sudah lama dikenal sebagai bangsa yang menguasai teknik pelayaran jauh. Nancy Jenkins dalam The Boat Beneath the Pyramid (1970) menulis, dalam suatu penggalian arkeologi di gurun dekat Kairo, ditemukan sebuah bangkai kapal laut yang dibenam di dalam satu kuburan khusus di bawah piramida Firaun Cheops. Firaun ini hidup lebih dari enam abad sebelum Firaun Sesostris naik tahta. Kapal itu dipisah-pisah secara sengaja dan cerdas menjadi sekira 1.200 potongan dan diletakkan di dalam sebuah kuburan besar. Dalam kondisi gurun yang kering dan hampa udara, potongan-potongan kapal tersebut tetap utuh saat ditemukan setelah terkubur selama lebih dari empatribu limaratus tahun.
Ketika potongan-potongan kapal itu dirakit kembali oleh satu tim ahli, terbentuklah seuah kapal yang elok sepanjang 141 kaki, dengan balok sepanjang 19 kaki yang terbuat dari papan-papan kayu cedar Lebanon. Balok-balok kayu yang berukuran 70 kaki dirangkai dengan indah dengan menggunakan rumput halfa.
Kapal-kapal bangsa Mesir kala itu sudah berlalu-lalang di Terusan Suez, baik ke arah Lebanon maupun ke Laut Merah menuju selatan. Selama beberapa abad setelah berakhirnya pemerintahan Sesostris, kebudayaan Indus mulai mengalami kemunduran. Dan Terusan Suez yang kala itu disebut sebagai Terusan Firaun pun terbengkalai. Terusan tersebut akhirnya tidak terurus dan tertutup pasir, sehingga sejarah mencatat sejak itu tidak ada lagi interaksi antara Mediteranian dengan Samudera Hindia sampai seribu tahun sesudahnya.
Namun Sesostris telah memelopori gagasan yang tidak terlupakan; ketika Firaun Necho (berkuasa pada abad ke-6 SM) memimpin armada Phoenician yang berlayar mengelilingi Afrika, ia bersiap-siap membangun kembali terusan baru dari cabang Pelusian di Sungai Nil menuju Bitter Lakes, proyek raksasa ini kabarnya menelan 100.000 korban jiwa. Proyek ini diteruskan oleh Darius I dari Sungai Nil menuju Laut Merah, pada 521 SM hingga 485 SM. Ketika terusan ini tertutup kembali oleh sedimentasi alam, tertutup pasir dan tanah, beberapa tahun kemudian dibuka kembali oleh orang-orang Athena; dan dua abad kemudian oleh Ptolemy Philadelphus.
Robert Dick-Read mencatat, pemerintah Romawi tidak mengrus terusan itu dengan baik sehingga tertutup kembali. Barulah pada akhir abad ke-1 M, Kekaisaran Trajan membuka kemblai terusan itu dan dikelola oleh Hadrian dan Antonines hingga akhir abad ke-2 M. Redupnya kekuasaan Romawi di sekitar Mesir membuat terusan itu kembali tertutup pasir hingga di masa awal cahaya Islam bersinar di jazirah Arabia terusan tersebut dibuka kembali untuk memudahkan pengiriman biji-bijian dari Mesir menuju Makkah.
Namun pada abad ke-8 M, Al-Mansur memerintahkan agar terusan itu ditutup kembali dengan alasan keamanan, mencegah ancaman dari timur. Terusan Suez atau Terusan Firaun itu pun dengan sengaja ditutup selama berabad-abad, hingga datangnya masa Ferdinand de Lesseps.
Terusan Suez dalam bahasa Arab disebut sebagai Qanā al-Suways, yang berada di barat Semenanjung Sinai. Terusan ini panjangnya sekira 163 kilometer, menghubungkan Port Said di Laut Tengah dengan Suez di Laut Merah.
Pada 17 November 1869, seorang insinyur Perancis yang sudah lama tinggal di Mesir bernama Ferdinand Vicomte de Lesseps membuka kembali terusan kuno tersebut setelah sebelumnya mempelajari sejarah transportasi dan rute perdagangan antara Mesir kuno dengan wilayah-wilayah selatan. Sebelumnya, kapal-kapal dari Eropa yang ingin ke Asia dari Mesir harus mengelilingi Benua Afrika dahulu dan ini jelas memakan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa di antaranya melakukan hal yang sama dilakukan raja-raja Mesir sebelum terusan itu dibangun, yakni dengan mengosongkan kapal dan membawa barang-barangnya lewat gurun antara Laut Tengah dan Laut Merah.
Atas jasanya membuka kembali Terusan Suez, Ferdinand de Lesseps dipuja bagai pahlawan oleh Eropa. Pemerintahan Perancis menganugerahkan kehormtan tertinggi padanya dengan mengangkatnya sebagai anggota Académie Française.
Selama hampir duabelas tahun De Lesseps menikmati kehidupan yang nikmat dan nama yang besar. Namun di saat usianya mencapai 73 tahun, dia ditunjuk untuk mengepalai pembangunan Terusan Panama. Setelah 10 tahun dikerjakan proyek ini ternyata tidak selesai juga padahal sudah memakan korban tewas sekira 22.000 pekerjanya dan juga biaya yang tidak sedikit. Tahun 1888 proyek Terusan Panama pimpinan de Lesseps dinyatakan gagal. De Lesseps diseret ke pengadilan karena dituduh menyelewengkan dana proyek dan dihukum penjara 5 tahun.
De Lesseps melalui sisa hidupnya selama 6 tahun berikutnya di atas kursi malas. Seluruh gairah hidupnya sirna dan mentalnya terganggu. Ada satu hal yang unik sekaligus menyedihkan, sejak keluar dari penjara, dia hanya mau membaca suratkabar yang terbit sebelum tahun 1888, tahun saat proyek Terusan Panama dihentikan. Hal ini dilakukannya sampai dia meninggal dunia pada 7 Desember 1894.
Sekarang, dunia mencatat De Lesseps sebagai orang besar pembangun Terusan Suez. Hal ini sesungguhnya kurang tepat, karena sebenarnya Firaun-lah yang pertama kali membangun terusan itu.
Rabu, 21 April 2010
Perayaan Hari kartini
Smpn 1 Sedati
Senin 19 April 2010, adanya pengumuman tentang kegiatan lomba untuk memperingati hari kartini, Smp 1 sedati mengadakan beberapa lomba yang harus diikuti oleh setiap kelas.
juga 7c, 7c juga ikut merayakan dengan mencalonkan beberapa anak yang memang ada skill dalam diri mereka..
lomba sebagai berikut :
1. Guk dan Yuk : diikuti oleh ACHMAD SUHAIL DAN ADELINA ZIAN
2. Merangkai Bunga : diikuti oleh SALMA SALSABILA DAN PINGKY DEYANITA
3. Lomba memakai kebaya : diikuti oleh KHUSNAH AMALAH
4. Lomba menyanyi : diikuti oleh REGITA NADA
Rabu 21 April 2010 jam 06.37 di kelas 7c
Beberapa anak telah datang, khususnya anak laki laki yang tidak mengikuti lomba, mereka masih sibuk dengan urusanya masing masing.
Sementara itu, dikelas lain seperti kelas A,B,D dan lainya.. para peserta lomba sudah siapa dengan tata riasnya masing masing dan sebagainya, semua anak yang tidak mengikuti lomba pun juka ikut turun tangan membantu.
Sedangkan 7c, 1 yang ikut lomba pun belum datang akhirnya bel pengumuman berbunyi, ada pembertahuan bahwa peserta lomba diharap berkumpul, Gilang ketua kelas 7c dan beberapa murid lainya gelisah (lebay) , kita berpikir bahwa peserta 7c tidak ada yang datang, sambil tertawa dan stay cool, beberapa anak laki laki keluar dari kelas untuk memastika kedatangan Jimmy, Adel, Salma, Pingky,Nada dll..
owh.. ternyata Adelina si ( Yuk ) dari Guk dan Yuk sudah datang dengan memakai baju nasional berwarna hijau dan konde serta hiasan hiasan apalah dirambutnya, Jimmy pun juga akhirnya datang dengan memakai baju warna hitam dengan aptuh yang kaya blankon, dengan celana dan beberapa aksesoris lainya.
Tak lama kemudian anak anak yang lainya juga akhirnya datang walaupun sangat terlambat, semua sudah hadir dari peserta lomba, osis 7c dll yang berkepentingan sudah ada di dalam kelas 7c, hahaha Khusunya Adel dan Jimmy mereka kaya pengantin mau nikah, sama dengan anak yang mengikuti guk dan yuk lainya.
Maaf, format masih dalam 3gp --guk dan yuk--
--Karaoke--
Beberapa waktu kemudian..
Lomba baju kebaya sudah selesai ditampilkan begitu pun dengan lomba merangkai bunga, mereka telah selesai dan kembali ke kelas masing masing. Tetapi sekarang giliran loma Guk dan yuk yang mulai, beberapa peserta Guk dan Yuk mulai datang dan menampilkan karya panggungnya, semua tampak angggun ( huek
Beberapa waktu kemudian..
kebanyakan peserta lomba sudah melepas baju nasionalnya menjadi baju sekolah, dan saat anak anak berkeliaran sak-karepe dewe, saatnya pengumuman lomba dan ternyata
7c meraih juara 3 lomba kebaya yang dimenangkan oleh Khusnah amalah dan juga 7c berhasil meraih juara 1 lomba merangkai bunga yang dimenangkan oleh Salma Salsabila dan Pingky deanita..
sudah ya sekian dulu .. Selamat atas kejuaraan 7c ( lebay mode : on )
Sabtu, 27 Maret 2010
Perayaan Maulid nabi Muhammad
26 febuari 2010, merayakan kelahiran Nabi kami tercinta Nabi muhammad adalah hal biasa yang dilakukan 7c karena 7c adalah moeslem sejati...
kita melakukan ini dengan sederhana dan tidak terlalu mewah karena sifat nabi Muhammadd yang sederhana dan Sabar, sebelumnya kita menyusun meja menjadi mengikuti bentuk dinding kelas kami, dibuat melingkar dengan kursi yang bersebalahan, deretan kursi kanan terisi oleh perempuan sejumlah 13 kursi dan kiri terisi 11 kursi laki laki, semua bekerja untuk kegiatan ini, dari yang menggeser meja, kursi bahkan menggeret lemari

Acara tersusun berikut :
1. pertama, dilakukan dengan Opening yang dipimpin Salma Salsabila
berikut Videonya
Opening Salma :
2. Setelah pembukaan, dilanjtkan dengan pembacaan Diba' yang dipimpin oleh Khusna Amalah dan Masrifah, berikut Videonya :
3. Setelah Pembacaan Diba' selesai, dilanjtkan dengan membaca Al-qur'an oleh Zulfikar Ardiansyah (pembaca) dan Achmad suhail al-hazimi ( Penerjemah )
berikut Videonya
4. Setelah pembacaan Al-qur'an, Reynaldi Ramadhani datang untuk memberi ceramah bertema Nabi Muhammad
berikut videonya
5. Setelah selsai semua kegiatan Inti, penutup dilanjutkan dengan do'a oleh Faizah nur Fatimah, yang sampai saat ini masih menduduki tingkat atas dalam bidang Mathematics di Spensased

















